Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2015

Pulang Kampung


Aku rindu pulang kampung. Aku harus pulang ke rumah. Kerinduanku pada keluarga telah sampai ke batas ubun-ubun. Sampai batas lelahku. Aku perlu recharge semangat dan motivasi tanpa kata dengan mengunjungi bagian dari “tubuhku,” dari diriku, yakni kampung halaman.

Terkadang manusia seperti penyu betina dalam hal tertentu. Di daratan manapun tempatnya seekor penyu di lahirkan, suatu saat ketika akan bertelur seekor penyu akan kembali ke tempat ia dilahirkan. Artinya tempat kelahiran menjadi bagian yang sangat penting bagi kelangsungan hidup si penyu. Mungkin semua penyu—khususnya yang betina—ketika meninggalkan daratan menuju lautan, telah menyimpan kerinduan yang dalam agar suatu saat bisa ke tempat asalnya. Maka dengan instingnya yang tajam seekor penyu dewasa ketika ingin bertelur dapat menemukan kampung halamannya, seberapun jauhnya ia mengembara. Seekor penyu dapat mengarungi lautan yang luas. Melintasi pulau demi pulau bahkan benua demi benua. Hal ini adalah sesuatu yang sangat ajaib.


Sabtu, 31 Maret 2012

Makna Simbol ‘ah’

__Catatan narsis(isme).


MANUSIA hidup dengan sebuah simbol dalam hidupnya. Ia perlu sebuah tanda atau simbol untuk mengidentifikasikan dan membedakan dirinya dengan orang lain. Berkomunikasi dengan sesamanya dan dengan penciptanya. Simbol itu bisa berupa sesuatu yang berbentuk, berwarna maupun suara. Simbol adalah komunikasi mendalam tanpa bertele-tele berbicara, dan tak harus berpanjang-panjang dengan teks.

Simbol pun perlu konteks untuk bisa dimaknai dengan sempurna. Bentuk yang sama bisa berbeda makna jika konteksnya berbeda. Misalnya gerakan menggelengkan kepala disatu tempat berarti “iya” tetapi di tempat lain bisa bermakna “tidak.” Warna merah sebagian menganggap tanda yang mengerikan, tetapi sebagian yang lain simbol kebahagian, keindahan dan keagungan.

Jumat, 02 Maret 2012

Empat Tingkat Kebahagiaan

BAHAGIA adalah kata yang paling sering diucapkan dalam doa. Doa saat ulang tahun, pernikahan, doa sesudah shalat maupun dalam acara-acara seremonial. Sepertinya setiap orang merindu-dambakan kebahagiaan. Sayangnya tidak semua orang tahu apakah arti kebahagiaan, jalan menuju kebahagiaan dan apa yang bisa benar-benar membahagiakan dirinya.

Memang sulit merumuskan definisi bahagia. Ada yang menganggap kebahagiaan ada pada harta yang banyak. Maka harta benda pun dikejar dengan segala cara. Yang lain mengira kebahagiaan adalah hidup bersama kekasih dengan cinta sejati, lalu perburuan pacar pun dimulai. Rela melakukan apapun demi (katanya) cinta.Tidak cocok dengan satu orang, mencari lagi yang lainnya begitu seterusnya berganti-ganti. Ada juga yang merasa menemukan kebahagiaan pada makanan dan minuman yang enak-enak. Kebahagiaan adalah memeliki wajah yang rupawan, harta banyak, pendamping yang elok dan memiliki rumah bagus, begitu pendapat yang lain mengatakan. Begitulah manusia mencoba menemukan kebahagiaan. Tetapi setelah semua materi didapat tak ada kebahagiaan yang memuaskan dan kekal.

Ponsel Berdering Saat Sholat

JIKA kita shalat jamaah di masjid, seringkali terdengar dering ponsel entah darimana sumbernya. Padahal di tembok masjid sudah ditempel tulisan “Demi kekhusyukan beribadah, harap HP dimatikan.” Sebelum shalat jum’at pun pengurus masjid tak bosan-bosannya memperingatkan untuk melakukan hal itu—mematikan ponsel. Tetapi orang Indonesia, termasuk yang muslim, kebanyakan bukanlah orang yang taat hukum, jadi peringatan apapun kerap diabaikan. Termasuk peringatan mematikan ponsel. Saya tidak tahu apakah di gereja, juga di tempat ibadah lainnya terjadi hal yang sama.


Jika kita sedang berjamaah di masjid, tapi masih saja ada ponsel berdering, ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu tetap terjadi. Pertama, mungkin dia (pemilik hp) lupa. Lupa mematikan ponsel karena jarang ke masjid, jadi tak pernah membaca peringatan di tembok masjid. Dugaan ini saya kira kecil sekali kemungkinannya. Kedua, ia gagap teknologi. Kecanggihan ponsel cerdas tidak diimbangi dengan kemampuan mengoperasikan fiturnya.

Sabtu, 04 Februari 2012

Melawan dengan Manis


SUNGGUH benar—setidaknya menurut saya—apa yang dikemukakan oleh penulis buku Orientalisme, Edward. W. Said, bahwa tak seorangpun kini yang benar-benar satu hal. Dunia tidak satu atau dua warna, tapi banyak warna. Karena semuanya (orang dan sesuatu) berbaur, berinteraksi, mempengaruhi dan saling dipengaruhi. Batas-batas yang dulu tampak jelas, kini buram dan sirna.

Hal ini selaras dengan apa yang menjadi salah satu “dasar pemikiran” posmodernisme, tentang ketiadaan kebenaran yang benar-benar mutlak, tetapi segalanya itu relatif. Klaim maupun tuduhan kepada pihak ekstrim, kolot tidak selamanya berlaku. Yang (katanya) moderat, justru terkadang dalam hal yang lain sangat konservatif. Konservatif pun pada awalnya atau diakhirnya akan tampak moderat, bahkan bisa berubah liberal. Sementara yang moderat, yang membanggakan diri dengan kemoderatannya bisa terperosok kepada sifat dan sikap yang kolot. Tetapi untuk beberapa hal, menurut saya sikap “ekstrem” memang harus dipertahankan.

“Homo Symbollicum” dan Simbol Shalat

PADA dasarnya manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang selalu menggunakan simbol-simbol. Baik untuk sekedar identitas, maupun sebagai pemaknaaan atas suatu hal yang diyakini kebenarannya—simbol ideologi misalnya. Maka tak heran munculah istilah ”homo symbolicum”—yang mengambarkan manusia sebagai pengguna simbol.

Orang Yahudi, sangat membanggakan topi kecil yang diselipkan di ujung belakang kepalanya atau bintang david—bintang bersisi enam—sebagai simbol keyahudian. Bulan sabit, Jilbab dipersepsikan atau diidentikkan dengan umat Islam. Belum lagi simbol merah, hijau, suara, kiri, kanan, tengkorak, martil, sarung, jari tengah dan seterusnya. Yang secara sadar atau tidak simbol-simbol tersebut dipakai dan digunakan orang. Baik tahu maknanya maupun tidak.

Pengalaman Spiritual


‘PERISTIWA 911’ tahun 2001 yang meruntuhkan gedung kembar World Trade Center—pusat perdagangan dunia—memang membawa implikasi yang dahsyat bagi segala sektor kehidupan, utamanya bagi umat Islam. Karena pelaku peledakan yang menggunakan pesawat Boeing tersebut telah dialamatkan kepada umat Islam sebagai teroris, tentunya dengan perspektif Amerika.

Tetapi, ada salah satu hikmah dibalik semua itu. Blessing in disguise, istilahnya. Dikabarkan oleh sejumlah media, ribuan warga Amerika di Boston diam-diam merasa tertarik dengan Islam yang dianggap sebagai biang teroris itu. Mereka yang awalnya tidak tahu Islam, mencari tahu apa sebenarnya Islam itu. Mereka penasaran. Sebagian warga Amerika yang tertarik itu hanya sekadar ingin tahu saja, sebagian lagi memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Umat Islam di sana pun mulai gencar melakukan kajian keislaman. Diantaranya bertujuan mensosialisasikan Islam yang sebenarnya, bukan seperti tuduhan media-media asing.

Agama Praksis versus Agama Wacana


SEJARAH kelahiran agama memang masih banyak orang yang memperdebatkannya, namun untuk apa agama dilahirkan, rasanya kita sepakat, yakni sebagai penenang jiwa sekaligus petunjuk hidup (way of life). Meskipun demikian, kelahiran agama tidaklah berjalan dengan mulus, ia dipenuhi dengan rintangan. Karena agama selain punya misi menentramkan, ia juga lahir untuk mendobrak beragam kerusakan dan ketidakadilan. Untuk kemudian menciptakan kehidupan yang penuh keharmonisan dan kedamaian bagi semua makhluk.

Sebagaimana agama lainnya, kelahiran agama Islam sejak awal pun sangat mengguncang, karena agama ini telah berani merubah tatanan yang telah mapan saat itu. Kalau agama sebelumnya umumnya hanya mengajarkan tentang bagaimana berhubungan dengan Sang Pencipta, bagaimana berbuat baik terhadap sesamanya. Namun Islam lebih dari itu semua.

Jumat, 20 Januari 2012

Makna Ulang Tahun

:Juga untuk yang hari ini ulang tahun.

Hari lahir, pada hakikatnya adalah pengulangan nostalgia. Nostalgia kelahiran. Seseorang senantiasa ingat dan senang dengan masa lalu. Seringkali dirinya membandingkan apa yang dirasakannya hari ini dengan hari-hari yang telah lewat. Melihat apa yang telah didapatkannya hari ini dan apa saja yang belum tercapai.

Mengenang hari lahir kini telah menjadi budaya massa, khususnya di kalangan anak-anak dan generasi muda. Berbeda dengan generasi (tua) dahulu yang tidak menganggap penting sebuah hari lahir. Ini terbukti banyak yang tidak ingat kapan dirinya lahir—hari apa, tahun berapa—apalagi sampai merayakannya. Mungkin sebagian orang ada yang ingat hari atau waktunya dari cerita orang tuanya. Misalnya kalau orang jawa ingat kalau ia lahir pada Sabtu Wage, Pahing, Legi atau Pon. Lahirnya pagi hari atau malam hari, tapi tidak tahu tajun berapa. Namun bagi generasi sekarang mengenang atau merayakan hari lahir seolah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Kamis, 14 Oktober 2010

Masalah Kita Sebenarnya Masalah Kecil


TERKADANG saya sering membiarkan sesuatu--dalam banyak hal--terjadi begitu saja. Karena menurutku hal itu adalah persoalan yang remeh-temeh kalau dibandingkan dengan seluruh persoalan kehidupan. Apalagi hanya sebuah persoalan pribadi.

Tetapi tidak jarang saya juga risau dan terusik dengan masalah yang ada pada diri saya maupun masalah yg saya lihat. Meskipun saya kadang sadar hal itu adalah masalah yang tidak seberapa.

Saya masih ingat kata-kata "guru spiritual" saya. Mengapa Rasulullah Muhammad (shalawat dan salam semoga selalu padanya) saat dalam kesedihan diangkat ke langit oleh malaikat jibril salah satunya adalah untuk ini. Malaikat mengajarkan, masalahmu (Hai Muhammad) adalah masalah yang sangat kecil dari sudut pandang alam yang lebih luas. Kematian Khadijah yang sangat beliau cintai juga kematian pamannya belumlah seberapa dibanding masalah-masalah yg ada di jagat ini. Kemudian beliau pun diberikan penglihatan berupa perumpamaan2 kehidupan.

Jadi sebenarnya tak usah terlalu cemas dan panik menghadapi setiap masalah kehidupan, apalagi hanya masalah pribadi. Meskipun kita harus tetap memikirkannya dan juga mencoba menyelesaikannya. Tapi sekali lagi angan terlalu panik. Seandainya dirimu diberi kesempatan melihat2 alam raya--meteor, komet yang bertabrakan atau menghujani bumi--niscaya kita akan sadar betapa kecilnya persoalan kita.[]

Sabtu, 14 Agustus 2010

Menghormati yang (tidak) Berpuasa

Satu hal yang mengusik pikiran saya ketika menjelang ramadhan adalah, mengapa semua orang diminta untuk menghormati bulan ramadhan, khususnya menghormati orang yang berpuasa? Orang yang biasa berjualan makanan diminta untuk menutup(i) warung jualannya. Hiburan malam pun harus menutup hiburan malamnya. Mengapa untuk berpuasa ramadhan semua “godaan” itu harus ditertibkan oleh pemerintah, bukan oleh hati kita? Tidak cukup kuatkah kita berpuasa kalau dikanan-kiri kita ada orang yang menjual makanan atau ada orang yang makan? Jika jawabannya ya, maka puasa kita tak ubahnya seperti puasa anak-anak yang baru belajar berpuasa.

Ramadhan adalah bulan suci. Ramadhan akan tetap suci bahkan jika kebanyakan orang tidak menghormatinya atau tidak berpuasa. Kesucian ramadhan bukan kesucian fisik, melainkan kesucian bathin. Puasa ramadhan atau puasa yang lainnya (puasa sunah) adalah ibadah personal, yang sah-tidaknya hanya Allah yang tahu. Khusus untuk puasa ramadhan bahkan Allah yang akan membalas pahalanya secara lansung, tanpa perantara malaikat.

Sabtu, 27 Maret 2010

Daun Tua dan Tunas Muda


TUNAS muda bisa bermakna apapun yang menunjukkan hal, sesuatu atau orang-orang termasuk pemikiran yang baru. Seiring berjalannya waktu tanpa saya sadari ternyata saya telah mendapatkan teman-teman yang baru saya kenal. Itulah tunas pertemanan baru. Disisi lain saya telah dan mulai kehilangan (kontak) dengan orang-orang yang (pernah) saya kenal. Seperti kehilangan daun yg sudah tua.

Sesuatu yang baru selalu exciting (menggugah perasaan). Meskipun saya sadar semua orang mempunyai perbedaan, tetapi ternyata saya terkadang kurang bisa memahami perbedaan orang-orang yang baru saya kenal. Dengan adanya proses lama kelamaan saya bisa mengerti mengapa mereka berbeda. Perbedaan antara saya dengan mereka sesungguhnya tidaklah terlalu banyak. Mungkin karena belum terlalu kenal saja maka terkesan mereka begitu berbeda, padahal tidak terlalu berbeda. Sayangnya kita sering melihat perbedaan sebagai suatu masalah. Bukan sebagai sesuatu yang berkah. Tidak melihatnya sebagai sesuatu yang spesial.

Maka, saat kawanmu pergi dengan atau tanpa tanda kutip, tak guna menangis tak guna tertawa. Akan ada tunas-tunas muda yang menggantikan.[] Wallahu a'lam.

Tetaplah Bekerja Meskipun dalam Keputusasaan


WAKTUNYA sudah berlalu sekian tahun yang lalu. Saya membaca sebuah buku kecil disiang hari. Saya baru saja pulang ke rumah setelah pertemuan dengan teman-teman se-kampus. Ada sebuah tulisan pendek karena memang berupa penggalan kalimat yang pernah diucapkan (mungkin filosof, pemikir atau orang besar yang cukup berpengaruh). Kalimat dalam buku itu kira-kira berbunyi "Janganlah sekali-kali berputus asa, " demikian Edmund Burke berkata, "tetapi jika tetap saja kamu berputus asa, tetaplah bekerja meskipun dalam keputusasaan."

Sabtu, 04 Juli 2009

Surat untuk Sahabat


SOAL e-mailmu yang kau kirimkan beberapa waktu yang lalu rasanya tak etis kalau aku juga tak membalasnya. Sebenarnya memang bukan persoalan etis atau tidak etis, tapi mungkin persoalan penghargaan. Aku sangat menghargai (tulisan) seorang teman, dan aku tak ingin mengecewakannya. By the way, dalam dialog singkat kita lewat sms (short message service--pen), kita (tepatnya aku) pernah mengatakan soal tulisan yang tak ABG atau dewasa. Setelah aku pikir-pikir cukup merepotkan. Kenapa? Dewasa itu seperti apa sih? Apakah dewasa itu terukur? Oleh apa? Pikiran? Tingkah laku? Apakah dewasa berlaku sama untuk semua orang? Maksudnya, apakah saat aku berfikir dan bertindak yang menurut orang lain dikatakan dewasa, apakah ketika orang lain melakukan hal yang sama ia juga dikatakan dewasa?

Soal kedewasaan aku sangat terkesan dengan film "Undercover Girl". Seorang gadis kecil dalam film itu dalam banyak hal menurutku lebih berfikir dewasa dari pada ibunya yang wanita karir, atau dari Babysitter-nya yang juga seorang penulis (gagal?). Dalam buku "Gadis Kecil di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuronayagi pun demikian. Si Toto Chan mampu bertindak dewasa dari pada orang yang lebih tua. Jadi dewasa itu seperti apa?

Senin, 27 April 2009

Membaca buku adalah ibadah


MEMBACA buku adalah ibadah. Itulah kesimpulan yang dapat saya ambil ketika membaca, memaknai dan mengambil hikmah dari membaca QS. Al-‘Alaq. Sebuah pembacaan dengan sangat sederhana. Dalam ayat yang diturunkan pertama kepada Nabi Muhammad tersebut, kalimat yang juga pertama adalah “Bacalah”. Membaca memang tidak hanya pada sesuatu yang literal atau tekstual saja, tetapi juga menangkap makna dari hal-hal di luar konteks, dan bahkan lebih luas lagi. Misalkan membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan. Karena ada perintah dari teks suci untuk membaca, maka membaca buku—sebagai bagian dari membaca yang sederhana,—adalah juga ibadah. Sebagaimana membuang duri dari jalan yang juga menjadi bagian dari cabang iman,—meskipun paling kecil.

Buku (Apa) yang Kita Baca?


SEORANG teman—perempuan—pernah beberapa kali memintaku untuk menyebutkan sebuah judul buku yang aku suka, atau menyebutkan buku yang menurutku sebaiknya dia baca. Kemudian dia berjanji akan membacanya atau sekaligus membelinya jika punya uang. Karena tampaknya dia ingin berdiskusi denganku maka aku menyarankan saja untuk membeli buku yang sudah kumiliki, jadi tidak akan merepotkan jika harus berdiskusi dengannya. Karena aku dan dia (telah) membaca buku yang sama. Aku pikir-pikir rupanya aku disuruhnya untuk mengetes kemampuannya. Mungkian dia mau sedikit menyombongkan kehebatan daya ingatnya padaku, ini sih cuma pikiranku saja. So, aku suruh dia untuk mencari buku “Jejak Posmodernisme di Indonesia” karya Radhar Panca Dahana.

Beberapa hari kemudian…

Senin, 26 Januari 2009

Kebenaran Kita dan Kebenaran Orang Lain

Hati dan pikiran seseorang begitu cepat berubah. Sesuatu yang kecil mampu membuatnya menjadi orang yang paling bodoh atau bisa juga menjadikannya sebagai orang ”besar”. Maka apa yang seseorang lihat, ia dengar dan ia baca akan sangat mempengaruhi kehidupannya dikemudian hari. Sebagaimana kalau kita membaca buku-buku dan tulisan yang katakanlah ”fundamentalis”. Semakin sering dan semakin banyak yang kita baca, maka akan pula membentuk pola pikir dan pespektif kita dalam banyak hal. Dari pola pikir dan perspektif itu akan pula mempengaruhi pola perilaku kita.

Begitupun bila kita kemudian membaca buku-buku ”liberal”—(sekali lagi tanda kutip, untuk menjelaskan maksud yang mungkin bukan sebenarnya), maka hasil yang diperolehnya pun sama ”liberal”-nya. Lalu bagaimana bila kita membaca buku-buku dengan kategori keduanya?

Tentang Pengkhianatan

ADA sebuah ungkapan yang cukup menarik tertulis dalam stiker kecil IMM—Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah. Katanya, ”Diam adalah Pengkhianatan”. Tidak jelas apa pengkhianatan semacam apa yang dimaksud dalam kalimat tersebut. Maksud awal dari tulisan tersebut—saya lupa persisnya—adalah ajakan untuk melakukan sebuah gerakan terhadap segala bentuk penindasan. Lagi-lagi menjadi sebuah pertanyaan; penindasan macam apa? Oleh siapa dan kepada siapa penindasan itu? Seandainya penindsan yang dimaksud dilakukan terhadap ”kaum bawah” oleh penguasa, maka pantaslah kita melakukan perlawanan. Namun bagaimana misalnya bila penindasan itu justru dilakukan oleh ”orang bawah” sendiri kepada rekannya yang lain? Atau penindasan dari ”kaum bawah” kepada golongan minoritas yang sedikit punya kuasa?

Minggu, 18 Januari 2009

Belajar Beragama, Belajar Berbuat (Part 2)

Wacana keberagamaan umat saat ini terlihat paradoks. Ada yang mewartakan (ber)agama sebatas gagasan-gagasan ideal ditengah berkecamuknya jaman, di dunia yang saat ini tak bertepi (borderless), dimana pluralitas tak bisa dihindarkan. Satu sisi ada yang mencoba mengenakan baju agama namun seolah menutup mata bahwa realitas sesungguhnya tidak sama dengan apa yang terlihat di sini (berpendar). Sehingga keberagamaannya terasa rapuh, karena kurang berpijak pada realitas.

Ada paradigma yang berusaha melakukan penyesuaian-penyesuaian antara idiom-idiom agama dengan perubahan sosial dan konstelasi politik. Sementara paradigma yang lain bersikeras melakukan ayatisasi-formalistis. Demikian cendikiawan Yudi Latif menggambarkan paradigma pemikiran Islam yang dominan berkembang selama ini. Masing-masing “pengikut setia” alur pemikiran tersebut saling mengklaim kebenaran pemikiran pemikiran mereka. Bahwa akar penyebab keterbelakangan umat Islam adalah kebodohan memahami ajaran agamanya sendiri. Maka kedua kalangan tersebut saling memberikan resep atau jawaban atas keprihatinannya, tentu saja dengan perspektif masing-masing.

Belajar Beragama, Belajar Berbuat (Part 1)

Belajar beragama tidaklah mudah bagi oarang yang telah terbiasa sekalipun tentang agama, apalagi bagi orang yang jarang atau tidak pernah mempelajari tentang agama. (Meskipun bisa saja terjadi sebaliknya). Orang yang beragama mestinya adalah orang yang hidupnya penuh dengan aksi kebajikan. Kehidupannya di dunia memberikan efek positif bagi makhluk di sekitarnya. Walaupun secara kodrati ia berpotensi untuk berbuat kebatilan—karena begitulah sisi negatif manusia. Namun kebatilan yang telah ia lakukan senantiasa ia sesali dan digantikannya dengan amal shaleh. Karena manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun apabila ia melkukan kesalahan dengan cepat ia menyesalinya , bertaubat dan ditambalnya dengan amal kebaikan.

Beragama sekarang ini—dan dimasa mendatang—tidak cukup hanya dengan percaya akan adanya Penguasa Kehidupan. Tapi lebih dari itu. Realitas ssial dimana kita tinggal dan di sisi lain di belahan bumi yang sama, mengharuskan sikap aktif-progresif kita untuk meluruskan kepincangan dunia dari kedzaliman, ketamakan dan ketidakadilan. Juga dari moralitas yang menghancurkan. Pelbagai ketimpangan dan kerusakan yang terjadi di bumi ini semestinya menjadikan nurani (sebagai) orang yang beragama merasa terpanggil. Karena jelas, agama diturunkan untuk kedamaian dan keselamatan manusia dan makhluk lain (rahmatan lil’alamiin). Jadi pada saat kita membiarkan kedzaliman terjadi, saat itu pula kita mengkhianati dan meruntuhkan sendi-sendi kepercayaan agama kita.

Dalam ajaran Islam, keyakinan beragama mutlak berpangkal pada prinsip-prinsip tauhid yang melahirkan persaksian (syahadah). Proses penerimaan keyakinan (agama) dan kesadaran tentang Tuhan selayaknya melahirkan internalisasi yang sempurna antara kesadaran intelektual dan kesadaran spiritual sekaligus.