Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2015

Kesepian


Kesepian ini begitu mendera
Sebelum kau datang menawarkan sepucuk kata bertabur embun
Embun yang lama dirindukan tangkai hati
Datanglah selalu dan mendekaplah
Agar hati ini hilang rasa lelah

Tahukah kau, kutasbihkan namamu hingga tepi malam dan ujung siang
Kulukiskan pada kulit harapan
Kuceritakan indahmu pada kupu-kupu, angin dan hujan
Sesekali kulilitkan namamu di bangku senja hingga ia tersipu

Kadang aku tersesat membawa lukisanmu
Logikaku terbakar, mungkin aku mabuk
Tapi tidak, aku sadar dan aku masih disini dengan kesepianku
Dan kutahu, penawar kesepian yang mendera ini hanyalah sebuah nama

Candipure, Jum’at 08 Juli 2011

Pagi dengan Sinar Bulan


Aku merindukan pagi
Pagi dengan sinar bulannya yang temaram
Sungguh, dalam aroma pagi aku menemukan aromamu
Semoga kau pun di sana menangkap resahku di tepi pagi

Di dinding kamar yang dingin ini
Terpantul wajahmu
Gulita tak mampu melenyapkan bayangmu

Di lantai sujudku pun kau hadir
Mengganggu kemesraanku denganNya

Aku menikmatinya
Pagi dengan sinar bulan

Kotabumi, Juni 2011-2015

Sabtu, 31 Maret 2012

Makna Simbol ‘ah’

__Catatan narsis(isme).


MANUSIA hidup dengan sebuah simbol dalam hidupnya. Ia perlu sebuah tanda atau simbol untuk mengidentifikasikan dan membedakan dirinya dengan orang lain. Berkomunikasi dengan sesamanya dan dengan penciptanya. Simbol itu bisa berupa sesuatu yang berbentuk, berwarna maupun suara. Simbol adalah komunikasi mendalam tanpa bertele-tele berbicara, dan tak harus berpanjang-panjang dengan teks.

Simbol pun perlu konteks untuk bisa dimaknai dengan sempurna. Bentuk yang sama bisa berbeda makna jika konteksnya berbeda. Misalnya gerakan menggelengkan kepala disatu tempat berarti “iya” tetapi di tempat lain bisa bermakna “tidak.” Warna merah sebagian menganggap tanda yang mengerikan, tetapi sebagian yang lain simbol kebahagian, keindahan dan keagungan.

Minggu, 08 Januari 2012

Di Kaki Gunung Pesagi

KISAH ini terjadi beberapa waktu yang lalu. Karena itu sengaja kuceritakan, karena jika tidak, cerita ini akan hilang. Aku berharap temanku akan menceritakannya kepada yang lain.

“Aku adalah pengembara,” begitu kuawali ceritaku pada seekor kucing hitamku. Kucing itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya ke kakiku. Tak perlu persetujuan darinya aku melanjutkan ceritaku. “Telah banyak tempat di negeri ini yang aku datangi. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari pulau satu ke pulau lain di negeri ini. Kampung dan desa kumasuki. Kota demi kota tak luput dari pengembaraanku. Aku beruntung hidup di era transportasi dan teknologi. Dengan demikian pengembaraanku bukanlah pengembaraan seperti pada kisah Brama Kumbara yang berjalan kaki atau naik kuda. Terkadang aku naik roda dua, bus, kereta api ataupun kapal laut. Satu yang tak pernah kucoba adalah pesawat udara, sebab kudengar pesawat terbang di negeri ini tak begitu layak terbang.” Kucing di sebelahku masih diam saja.

Sabtu, 19 Februari 2011

Amirul Huda Cat Air

Sabtu, 14 Agustus 2010

Si Tukang Jahit

Ilustrasi
Ramadhan tahun ini saya teringat kembali dengan cerpen dari Agus Noor, berjudul Tukang Jahit. Saya tak ingat persis kapan cerpen itu dibuat, tapi yang jelas saya pernah membacanya.

“Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Kata orang, ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya.” Begitu Agus Noor mengawali ceritanya.

Waktu itu tukang jahitnya tidak hanya satu tapi banyak tukang jahit. Mereka tukang jahit keliling. Semua penduduk kota menyambut si tukang jahit dengan riang. “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” begitu anak-anak berteriak. Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul, maka Lebaran tidak jadi datang ke kota itu.

Senin, 03 Mei 2010

Pembatas Buku


Ada beberapa cara menandai halaman buku yang sedang kita baca. Di masa lalu ada kebiasaan yang lazim dilakukan, yakni melipat sudut atas halaman itu—dari sinilah diperoleh ilham untuk nama rubrik “Sudut Lipatan”. Arah lipatan menunjukkan halaman mana yang terakhir kita baca, yang ganjil atau yang genap.

Namun, melipat halaman buku bukanlah cara yang patut ditiru, sebab akan merusak buku. Bayangkan bila kita membaca dengan begitu lambat, pasti akan banyak sudut halaman yang kita lipat. Jika satu hari cuma membaca satu halaman, sudut yang sama akan dilipat dua kali: mula-mula ke halaman ganjil, lalu ke halaman genap. Lama-lama, halaman itu patah sudutnya.

Sembilan Menit Dihari Jumat

Kemarin/ kau buat layar ponselku berdering//
Isyarat yang tak biasa/ Hari ini kau meninggalkan jejak panggilan tak terjawab// Jejakmu di ponselku bukanlah hal biasa//
Kau pasti ingin mengabarkan///

Di telepon/ kita bicara tentang hal yang itu itu saja//
Mengapa kita tak bicara tentang warna hijau lumut//
Atau warna lain yang lama kita lupakan//
Bila esok rahasia itu pudar//
Tahan saja nafas kita//
"Aku tak punya fesbuk/" kau berkata//
"Tolong kabari aku lain waktu//"
"Berbahagialah yang tak punya fesbuk/" kataku//


--e.d.s.
Jumat, 22 April 2010

Sabtu, 05 Desember 2009

Dan kita tak tahu sedang apa

Suatu saat

Di suatu tempat

Suatu peristiwa

Dan kita tak tahu sedang apa kita saat itu.


Jakarta, 2009

Sore Hari, Suatu Tempat

sore ini aku masih di sini
di antara lembut dan kerasnya angin conditioner
aku rindu angin alam yang selalu membelai nyiur

Lampung, 05 Desember 2009

Rabu, 02 September 2009

Sebuah Isyarat

dalam tarikan nafas
selalu hadir sebuah pesan
tentang sesuatu yang kemarin
dan akan datang
tetapi tidak tentang saat ini

dalam setiap detak jantung
isyarat itu adalah niscaya
tentang kematian juga kehidupan
kehidupan adalah gerak
dan gerak pastilah tidak selamanya

Lampung, 09 Desember 2004

Siluet Senja

ombak dan pantai
merah
jingga
lampu jalan dan desir angin
lembut
semua indah
meski banyak yang melupakan-Mu

Losari, Makassar 04 Oktober 2004

Pagi di Laut Pare-Pare

di tepi pantai seberang jalan raya
aku memanggilmu dengan cemas
karena aku peduli denganmu
aku ingin mengatakannya
dengan embun pagi
di tepi laut

Pare-Pare, 02 Oktober 2004
12.30 WITA

Di Bus Kota, Pagi Hari

dingin air contioner di atas langit-langit bus kota
yang kita naiki
menghembuskan satu keraguan
tentang apa dan siapa kita
mungkin kita salah mengenali
tetapi satu tanda itu mengingatkanku

Jakarta, Desember 2005

Sore Hari di Tepi Jakarta

satu kata harus diputuskan
satu mesti ditunaikan
satu waktu harus dilupakan
dan satu nama mesti dilupakan;
tetapi tidak untuk satu cerita

-d.a.t-
Jakarta, 26 Desember 2004

Pasca Tsunami

malam selalu gelisah dalam gelap seperti aku di sini

dan kau mungkin sedang bercanda
saat ombak kau gulung
sebab aku meninggalkanmu
atau kau ingin menghukumku

Jakarta, 31 Desember 2004

Lukisan di Tamalanrea

dalam perjalanan yang lambat
di jalanan tamalanrea
aku tak merasakan keindahan senja
tapi aku berharap akan ada keindahan lain
yang membiru
dalam ruang gelap petang itu
ada warna biru bertebaran
di bajuku di bajumu
di sekitarku disekitarmu
kini warna biru itu tertetesi warna hitam yang pekat
dan aku melukisnya di tamalanrea
dengan warna itu

Makassar, September 2004

Revolusi Hari Minggu

hari adalah penanda yang tak pasti
tentang gerak waktu dan kita
tetapi karena ketidakpastian itu pasti
maka kita membutuhkannya
sebagai penanda, tak lebih

saat gerak meninggalkan diam yang beku
maka itulah revolusi
revolusi pagi atas malam
revolusi terang atas gelap
di sini hari menjadi penanda revolusi
dan revousi itu ada pada hari minggu
sebab kebekuan terpecahkan
sebab kebiasaan dilawan

Lampung, Minggu 12 Desember 2004

Akhir Pertemuan

tersenyumlah sahabat
sebab aku tahu kau berduka
bernyanyilah selagi tersisa waktu
berdustalah pada alam tentang kesetiaan
di sini rumput tak lagi hijau
air pun tak jernih
hanya malam yang tahu pasti
juga rembulan yang malam itu tak begitu terang
tentang arti pertemuan

Makassar-Surabaya, 07 Juli 2004

Di kotamu malam itu

di kotamu malam itu tak bersahabat
di kursi yang pudar aku rebah
dengan mata yang tak bisa terpejam
sebab malam memang tak bersahabat
kucoba menghadirkanmu
agar hilang semua gelisahku
sayang, aku tak bisa
mataku terlalu sulit terpejam
di kotamu malam itu menjadi kenangan
sebuah malam yang tak menyenangkan

surabaya kota, 07 juli 2004