Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2019

Empat Amalan Ini Bisa Mengantarkan Kita ke Syurga

study.com
SETIAP kali seseorang beramal dan berbuat baik puncak niatnya adalah karena ingin mengharapkan ridha Allah swt. Selain mengaharap ridha Allah, juga umumnya karena kelak ingin masuk surga. Berikut ini ada beberapa cara atau amalan (sederhana?) yang bisa menghantarkan kita masuk surga, yaitu:

Pertama, banyak menebarkan salam, perdamaian dan kasih sayang. Menebarkan perdamaian bisa diawali dengan memberi ucapan salam kepada saudara kita, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. (Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah subhanahu wa ta‘ala  tercurahkan untukmu).

Mengucapkan salam seperti ini, alhamdulillah sudah membudaya dinegara kita. Diucapkan kalau sesama muslim bertemu, diacara-acara formal, mengawal sambutan dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit diucapkan oleh umat agama lain, karena dianggap sudah menjad bahasa nasional, sebagaimana ucapan halo, selamat pagi, selamat siang atau selamat malam. Lazimnya ucapan salam akan dijawab dengan uacapan wa’alaikumssalam warahmatullahi wa barakatuhu (Dan semoga bagimu keselamatan, rahmat dan berkah Allah swt). Mengucapkan salam terkesan sederhana, sekadar remeh-temeh, namun sebenarnya memiliki makna yang mendalam dan manfaat yang besar. Karena didalamnya kita saling mendoakan.

Jumat, 15 April 2016

Pahala yang Provokatif?

siberklik.com
Belakangan ini saya melihat tautan berisi pahala mengajak istri jalan-jalan pahalanya lebih besar daripada i'tikaf di Masjid Nabawi. Subhanallah, ini kabar yang menggembirakan sekali. Maka ketika senggang, saya ajak istri saya jalan-jalan, keluar malam mencari minuman hangat dan beberapa kudapan. Dengan niat menyenangkan istri, semoga jalan-jalanku malam itu tercatat sebagai pahala sebagai mana i'tikaf di Masjid Nabi. Toh, dalam tautan yang saya baca tidak ada syarat jalan-jalannya harus jauh, apalagi ke luar negeri.

Hari ini ada lagi tautan berisi pahala menyeduh kopi--dan tentu saja menghidangkannya--kepada suami pahalanya mengalahkan amalan sunnah setahun. Yang ini kabar baik buat istri. Kalau ditambahkan dengan pekerjaan yang lain, seperti merebus mie instan, menanak nasi, menggoreng telor ceplok dan sebagainya, pasti pahalanya bisa seperti amalan sunnah sepuluh tahun.

Senin, 22 Juni 2015

Ramadan adalah Festival?

Ilustrasi Suasana belanja di mal. Sumber: antaranews.com
Ramadan makna asalnya adalah membakar. Membakar sifat ketamakan, kerakusan terhadap dunia. Dibulan ini kita dituntut untuk “pause,” berhenti sejenak mengendalikan syahwat, mengerem keinginan dari segala hal yang haram dan halal sekalipun. Karena itu puasa ramadan bisa dikatakan sebagai zakat (pembersih) terhadap diri seseorang yang kotor setelah sebelas bulan menelan hal-hal yang tidak jelas kebersihan dan atau kehalalannya.

Mungkin ini ironis, ramadan yang pada awalnya adalah sebuah momen keagamaan yang bersifat ukhrawi (keakhiratan) berubah menjadi momen keduniawian yang kering. Dahulu ramadan adalah saat dimana bisa beribadah puasa dengan penuh kekhusu’an kini riuh dan bising dengan sura petasan. Ibadah ini sangat rahasia dan menuntut kejujuran yang tinggi bagi pelakunya. Ramadan penuh dengan nilai-nilai sosial. Kaya dan miskin saling menghargai. Antar tetangga saling berbagi. Saat ini ramadan penuh dengan riuh-semrawut berbelanja dan kesumpekan mencari jajanan. Konsumerisme yang terjadi di bulan ini dianggap sebagai bagian dari berkah ramadan. Dengan demikian ada yang menganggap sifat konsumtif dan foya-foya selama (malam) ramadan seolah boleh ditolerir. Puasa ramadan seolah dipersempit maknanya sebagai tindakan tidak makan, minum atau bersetubuh disiang hari. Padahal ramadan maknanya lebih luas lagi. Yakni menahan segala nafsu, menghilangkan kesia-siaan, pemborosan, senda-gurau dan sifat-sikap yang tidak bermanfaat.

Ritual keagamaan yang menyangkut orang banyak memang mudah diplesetkan untuk mengeruk keuntungan berlipat. Mudah melenceng dari tujuan dasarnya. Bagaimana mungkin ibadah puasa yang sisi sosialnya dimaksudkan untuk turut berempati atas apa yang dirasakan kaum papa, tiba-tiba berubah menjadi ibadah individual yang egois. Puasa hanya dianggap sebagai menahan makan dan minum, bukan menahan sikap boros, pamer dan serakah.

Jumat, 02 Maret 2012

Empat Tingkat Kebahagiaan

BAHAGIA adalah kata yang paling sering diucapkan dalam doa. Doa saat ulang tahun, pernikahan, doa sesudah shalat maupun dalam acara-acara seremonial. Sepertinya setiap orang merindu-dambakan kebahagiaan. Sayangnya tidak semua orang tahu apakah arti kebahagiaan, jalan menuju kebahagiaan dan apa yang bisa benar-benar membahagiakan dirinya.

Memang sulit merumuskan definisi bahagia. Ada yang menganggap kebahagiaan ada pada harta yang banyak. Maka harta benda pun dikejar dengan segala cara. Yang lain mengira kebahagiaan adalah hidup bersama kekasih dengan cinta sejati, lalu perburuan pacar pun dimulai. Rela melakukan apapun demi (katanya) cinta.Tidak cocok dengan satu orang, mencari lagi yang lainnya begitu seterusnya berganti-ganti. Ada juga yang merasa menemukan kebahagiaan pada makanan dan minuman yang enak-enak. Kebahagiaan adalah memeliki wajah yang rupawan, harta banyak, pendamping yang elok dan memiliki rumah bagus, begitu pendapat yang lain mengatakan. Begitulah manusia mencoba menemukan kebahagiaan. Tetapi setelah semua materi didapat tak ada kebahagiaan yang memuaskan dan kekal.

Sabtu, 04 Februari 2012

Agama Praksis versus Agama Wacana


SEJARAH kelahiran agama memang masih banyak orang yang memperdebatkannya, namun untuk apa agama dilahirkan, rasanya kita sepakat, yakni sebagai penenang jiwa sekaligus petunjuk hidup (way of life). Meskipun demikian, kelahiran agama tidaklah berjalan dengan mulus, ia dipenuhi dengan rintangan. Karena agama selain punya misi menentramkan, ia juga lahir untuk mendobrak beragam kerusakan dan ketidakadilan. Untuk kemudian menciptakan kehidupan yang penuh keharmonisan dan kedamaian bagi semua makhluk.

Sebagaimana agama lainnya, kelahiran agama Islam sejak awal pun sangat mengguncang, karena agama ini telah berani merubah tatanan yang telah mapan saat itu. Kalau agama sebelumnya umumnya hanya mengajarkan tentang bagaimana berhubungan dengan Sang Pencipta, bagaimana berbuat baik terhadap sesamanya. Namun Islam lebih dari itu semua.