Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Menjajal Xiaomi Redmi 2

Tampilan Xiaomi Redmi 2/Amirul Huda

DI INDONESIA banyak yang belum mengenal merk Xiaomi, salah satu produsen smartphone asal Tiongkok. Tentu saja ini bisa dimaklumi mengingat Xiaomi baru berumur sekira lima tahun. Selain itu produsen yang dikomandani Hugo Barra ini tidak mengiklankan diri secara konvensional, melainkan memperkenalkan lewat “seminar,” jaringan sosial media dan internet. Jadi hanya yang rajin dan melek informasi saja yang mengetahui apa itu Xioami.

Xiaomi menawarkan produk dengan spesifikasi tinggi namun dengan harga terjangkau. Salah satu caranya adalah dengan menjual langsung kepada konsumen lewat penjualan online. Cara ini dimaksudkan untuk memotong rantai distribusi yang banyak memakan biaya. Beberapa produk yang sukses ditelurkan Xiaomi diantaranya adalah Redmi 1s, Redmi Note, Mi3, Mi4, Mi4i dan Redmi 2. Kali ini saya ingin menjajal salah satu produk Xiaomi kelas bawahnya, yakni Redmi 2 atau biasa disingkat RM 2.

Senin, 29 Juni 2015

Tehnik Editing di Media Massa


marketing-partner.com
Edit adalah membaca dan memperbaharui naskah. Editing merupakan bagian yang sangat penting dalam media massa. Lewat proses editing tulisan dibuat lebih bermutu. Ibarat membuat kue, editing merupakan proses peracikan bumbu (yang seimbang tepat) dan pemasakan sebelum dihidangkan kepada pembaca

Seorang editor (biasanya redaktur) harus punya penguasaan bahasa yang memadai, baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Semakin berkualitas seorang reporter, semakin ringanlah tugas editor.

Proses editing adalah membaca secara seksama dan selalu awas dalam memeriksa naskah. Naskah “dicurigai” sebagai naskah yang mungkin mengandung salah eja, salah tanda baca, salah penyebutan nama, sampai salah penyusunan kalimat. Bila banyak kesalahan tersebut sudah terlanjur tercetak tanpa ada perbaikan sebelumnya, maka kepercayaan orang kepada media itu akan berkurang.

Bahasa (Indonesia) Jurnalistik


“Biang keladi yang jauh lebih berdosa—yang menyebabkan tulisan kita
membosankan dan basi—bukanlah piramida terbalik,
melainkan bahasa pers.”
__Paula LaRocque
Assisten Redaktur The Dallas Morning News

Repro: uib.no
ANDA mungkin bertanya, apa itu bahasa jurnalistik? Apakah bahasa jurnalistik itu ada? Bukankah bahasa di Koran, majalah, televisi, radio itu tidak ada bedanya? Bukankah semuanya sama dengan bahasa di buku, di teks-teks pidato dan lainnya? Bukankah bahasa Indonesia itu satu.

Baiklah pendapat anda itu mungkin benar. Akan tetapi, apakah benar demikian?

Mari kita ambil contohkebiasaan Pak Ali sebelum pergi ke kantor. Pagi-pagi sesudah mandi dan berpakaian rapi Pak Ali menyeruput “Nescafe” kesukaanya, dan dengan santainya membaca beberapa berita. Sesekali ia mengangguk-angguk atau menggelengkan kepalanya, ketika membuka halaman lain. Mengapa demikan? Karena ia membaca koran pagi yang ditulis dengan bahasa jurnalistik. Bahasa yang enak dipahami dan enak dibaca. Apa jadinya bila koran menggunakan bahasa resmi, seperti bahasa perundang-undangan atau bahasa pidato.

Rabu, 16 Oktober 2013

Kartun Burung

Bagaimana pendapat anda setelah melihat video ini?


Senin, 31 Desember 2012

Setelah Sinetron, Boyband Lalu Apa Lagi?

ADAKAH pemain sinetron saat ini yang lahir dari sanggar seni atau teater? Rasanya minim sekali. Mungkin karena sinetron (kebanyakan) tak membutuhkan bakat atau keterampilan akting untuk pemerannya. Yang dibutuhkan sinetron hanya penampilan fisik. Pemeran Cuma perlu berpenampilan cantik atau ganteng, soal kemampuan akting bisa diatur belakangan. Jika tak cantik atau tampan, harus yang berpenampilan unik—untuk tidak mengatakan jelek banget. Toh, skenario dalam sinetron juga bukanlah konsep yang jelas. Jalan ceritanya bebas mengalir, berputar-putar dan semaunya sutradara atau produser. Banyak yang mengadopsi dan memodifikasi dari sinetron lain yang sama-sama minim kreativitas. Hanya beda judul dan nama tokohnya.

Selasa, 01 Mei 2012

Ibadah Online

DUNIA maya itu bisa disebut dunia gratisan. Banyak hal bisa didapat dan dinikmati tanpa harus membayar—kecuali biaya akses tentunya. Kadang sesuatu yang di dunia nyata susah ditemukan, di dunia maya dengan beberapa kali klik ketemu apa yang dicari. Mungkin anda yang tinggal di kota kecamatan atau kabupaten kecil perlu berjuang keras mencari album Deep Purple, misalnya, atau lagu-lagu Ikang Fauzi diera keemasannya. Di dunia maya mencari lagu tersebut semudah menghidupkan kompor gas. Mencari buku klasik di kota kecamatan mungkin sama susahnya dengan mencari kadal yang ekornya bercabang dua. Tetapi di dunia maya, dengan bantuan Google atau Yahoo, semua itu dengan mudah didapatkan. Apalagi jika anda memiliki keterampilan menggunakan mesin pencari—dengan kode-kode tertentu,—sesuatu yang anda cari dengan cepat didapat tanpa tersesat di rimba maya. Anda yang punya keahlian beberapa bahasa asing akan lebih gampang lagi menjelajahi dunia maya, referensi bacaannya pun kian luas. Sekali lagi dengan gratis.

Sabtu, 04 Februari 2012

Setelah Jobs Pergi

: Mengenang 120 hari kepergian Steve Paul Jobs

SEORANG laki-laki kurus duduk tak tenang dikursi ruang tamu sebuah perusahaan komputer Atari. Berjam-jam lamanya ia tetap tak beranjak dari tempat itu. Ia mendekap berkas lamaran kerja. Pimpinan perusahaan sudah memberikan jawaban bahwa sang lelaki kurus itu tidak bisa bekerja di perusahaannya. Alih-alih beranjak pergi, lelaki itu tetap menunggu kepastian bahwa dirinya layak bekerja di perusahaan itu. Atari kemudian menerima si lelaki tersebut, daripada harus memanggil polisi untuk mengusirnya. Lelaki itu bandel itu bernama Steve Paul Jobs.


Cerita itu memberikan sedikit gambaran bagaimana kekerasan hati Jobs untuk ketika menginginkan sesuatu. Ia begitu yakin dan pantang menyerah, karena ia yakin ia mampu. Dalam kisah lain, ketika Jobs bekerja di Apple Inc. (dahulu bernama Apple Computer Inc.) untuk membuat komputer pertama kali bersama rekannya, Steve Wozniak, mereka kehabisan material. Jobs tak segan-segan menelpon Bill Hewlett untuk membantunya memasok material kebutuhannya, meskipun ia sebenarnya tidak mengenal bos Hewlett Packard tersebut. Lagi-lagi Jobs tidak menyerah sampai ia mendapatkan material untuk komputer Apple-nya.

Senin, 03 Januari 2011

Dani Pedrosa Celebrations

Selasa, 02 November 2010

Selama Sinetron Masih Ditonton


Ternyata memang banyak yang tidak menyukai tontonan sinetron Indonesia. Meskipun pemerannya berwajah cantik dan ganteng, tapi tetap saja sinetron kita menyebalkan,--untuk tidak mengatakan menjijikkan.

Sinetron Indonesia memang harus direformasi. Ini kalau mau ada tontonan sehat di televisi kita. Bayangkan, acara yang paling banyak mengisi jam tayang dan paling banyak ditonton kualitasnya seperti itu. Kualitas asal jadi dan asal-asalan. Adegannya ya begitu-begitu saja, rata-rata semua sinetron seragam. Dialognya pun begitu-begitu saja. Ah, semua tahulah.

Kamis, 14 Oktober 2010

Mau Meng-hack Facebook Kawan? Gampang Kok


SAYA terpaksa membocorkan rahasia ini. Jika berkenan sudilah tuan dan puan, sister and brother membacanya.

Saya sering mendengar orang mengeluh akun facebooknya atau akun jejaring sosial yang lain di-hack (kerjain) oleh orang lain (hacker). Misalnya dengan memposting kata2 tidak pantas di status yang bersangkutan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah memang orang yang meng-hack akun kalian itu orang hebat? Oh, tidak juga. Kita juga bisa kok. Tapi ini cara amatiran lho.

Begini caranya.

Selasa, 13 Juli 2010

Surat Kabar Hibrida ala Olivia Serdeczny

Sumber Kompas.com
“…Era surat kabar [akan] segera berakhir…”
Philip Meyer dalam Vanishing Newspaper

Dalam jagad kewartawanan, Olivia Serdeczny bukanlah apa apa dibandingkan Nick Davies, Joze Ruben Zamora, Chris Elliot atau Bambang Harymurti sekalipun. Olivia hanyalah seorang gadis belia usia 25 tahun (2010). Ia adalah gadis Polandia yang mempunyai proyek eksperimental. Ia membuat “surat kabar hibrida” bernama NIIU di Berlin, Jerman.
Bedanya dengan surat kabar kebanyakan (konvensional) adalah NIIU bersifat individual. Kalau surat kabar pada umumnya seragam untuk satu koran, tetapi NIIU tidak demikian. Olivia memberikan kebebasan kepada pembaca untuk memilih sendiri informasi yang mereka inginkan.

Dengan demikian tentu saja isi koran NIIU akan berbeda satu sama lain tergantung dari pesanan pembacanya. Satu koran NIIU terbitan hari ini yang saya beli dan baca barangkali hanya berisi informasi atau berita politik, musik, ekonomi dan sedikit berita olahraga. Sementara NIIU yang anda baca bisa jadi berisi tentang teknologi informasi, olahraga tanpa berita politik. Hal ini terjadi karena kita berbeda selera serta memesan berita yang berbeda.

Senin, 03 Mei 2010

Awal Mula Adanya 'Halaman Judul' di Buku



Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sebuah skripsi atau tesis untuk meraih gelar kesarjanaan tertentu di perguruan tinggi biasanya membuat halaman khusus untuk judul?

Pernahkah Anda memperhatikan pula bahwa beberapa buku bersampul keras (hard cover) memiliki beberapa tempat untuk meletakkan judulnya, seperti di jaket, sampul, dan halaman pertamanya?

Halaman judul sebenarnya halaman khusus dalam dunia penerbitan. Tapi, bentuk halaman judul seperti buku-buku saat ini belumlah muncul hingga awal abad ke-16 di Eropa.

Secara historis halaman judul pada mulanya tidaklah khusus. Penerbit semula mencetak naskahnya sejak halaman pertama sebuah buku, yang kini kita sebut sampul buku tersebut.

Tapi, jangan bayangkan bahwa tampilan halaman itu seperti sampul sekarang. Buku-buku terbitan pertama hanya mencantumkan apa yang disebut incipit, yakni baris pertama atau beberapa kata awal dari sebuah naskah.

Nah, "judul" inilah yang diletakkan di lembar pertama dari sebuah buku. Tapi, helai pertama ini mudah rusak, bahkan bisa hilang, karena kala itu jenis kertas di halaman pertama ini sama dengan halaman dalam, sehingga format buku jenis awal ini seringkali ditemukan tanpa halaman pertamanya.

Karena pengalaman semacam ini, para penerbit pada masa 1460-an mulai mencetak buku-buku dengan naskah yang dicetak mulai pada lembar kedua buku. Lembar pertama dibiarkan kosong. Kadangkala lembar terakhir mereka biarkan kosong juga.

Lembar-lembar kosong inilah yang nantinya berkembang menjadi sampul, yang belakangan makin disempurnakan dengan membuat lembar tersebut lebih keras atau lebih tebal untuk menjadikannya benar-benar sebagai pelindung sebuah buku.

Di awal 1480-an percetakan mulai membuat teks sederhana yang diterakan pada sisi depan lembar pertama. Inilah cikal bakal judul pada penerbitan buku modern.

Namun, baru seabad kemudian muncul buku-buku yang memuat halaman judul yang diperindah dengan dekorasi atau hiasan tertentu yang menarik.

Pada perkembangannya sisi depan lembar kedua juga memuat judul buku tersebut dan mencantumkan informasi bibliografis di sisi belakangnya. Inilah yang kini menjadi format standar buku-buku modern.

Sumber Tempo/Matabaca

Sabtu, 04 Juli 2009

Surat untuk Sahabat


SOAL e-mailmu yang kau kirimkan beberapa waktu yang lalu rasanya tak etis kalau aku juga tak membalasnya. Sebenarnya memang bukan persoalan etis atau tidak etis, tapi mungkin persoalan penghargaan. Aku sangat menghargai (tulisan) seorang teman, dan aku tak ingin mengecewakannya. By the way, dalam dialog singkat kita lewat sms (short message service--pen), kita (tepatnya aku) pernah mengatakan soal tulisan yang tak ABG atau dewasa. Setelah aku pikir-pikir cukup merepotkan. Kenapa? Dewasa itu seperti apa sih? Apakah dewasa itu terukur? Oleh apa? Pikiran? Tingkah laku? Apakah dewasa berlaku sama untuk semua orang? Maksudnya, apakah saat aku berfikir dan bertindak yang menurut orang lain dikatakan dewasa, apakah ketika orang lain melakukan hal yang sama ia juga dikatakan dewasa?

Soal kedewasaan aku sangat terkesan dengan film "Undercover Girl". Seorang gadis kecil dalam film itu dalam banyak hal menurutku lebih berfikir dewasa dari pada ibunya yang wanita karir, atau dari Babysitter-nya yang juga seorang penulis (gagal?). Dalam buku "Gadis Kecil di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuronayagi pun demikian. Si Toto Chan mampu bertindak dewasa dari pada orang yang lebih tua. Jadi dewasa itu seperti apa?

Senin, 27 April 2009

Kau dan Cerpenmu; Ketika Aku Dipaksa Bicara

Pengantar: Tulisan ini adalah sebuah yang secara tak sengaja aku temukan di file yang lama tak aku buka. Awalnya tersimpan dalam forman CD-R/W. Tulisan ini adalah sebuah “obrolanku” dengan seorang kawan. Saya kira hanya kawan yang bersangkutanlah yang mengerti akan tulisan ini (kalau masih ingat). Sebagai kenang-kenangan dan juga karena sayang kalau di delete, maka lebih baik aku posting saja. Jika saudara/i, tuan dan puan mau membaca silahkan saja, mungkin ada manfaatnya.
===
KETIKA aku diminta untuk mengkritik, mengomentari atau apapun namanya untuk sebuah cerpenmu, aku sudah berpikiran ragu sebelumnya, dan sebenarnya sedikit malu. Kenapa? Karena aku sendiri toh tidak bisa membuat cerpen. Aku pernah membuat cerpen dua buah, tapi satunya hilang ketika sebelum sempat di print out. Satunya masih tersimpan di kamar tapi entah di mana. Tentu saja dua cerpenku itu adalah karya perdana yang tidak ada bagusnya mungkin, tapi cukup berkesan lho membuatnya, ada sebuah pengalaman batin di dalamnya. Tapi oke deh, karena mengomentari orang lain toh pada dasarnya mengomentari diri sendiri. Mengkritik orang lain juga mengkritik diri sendiri. Kamu jangan merasa dikritik, anggap itu juga kritik buatku. Sebenarnya kritik ini punyaku hanya saja kamu boleh baca, itu saja.