Rabu, 24 Juni 2015

Pagi dengan Sinar Bulan


Aku merindukan pagi
Pagi dengan sinar bulannya yang temaram
Sungguh, dalam aroma pagi aku menemukan aromamu
Semoga kau pun di sana menangkap resahku di tepi pagi

Di dinding kamar yang dingin ini
Terpantul wajahmu
Gulita tak mampu melenyapkan bayangmu

Di lantai sujudku pun kau hadir
Mengganggu kemesraanku denganNya

Aku menikmatinya
Pagi dengan sinar bulan

Kotabumi, Juni 2011-2015

Senin, 22 Juni 2015

Ramadan adalah Festival?

Ilustrasi Suasana belanja di mal. Sumber: antaranews.com
Ramadan makna asalnya adalah membakar. Membakar sifat ketamakan, kerakusan terhadap dunia. Dibulan ini kita dituntut untuk “pause,” berhenti sejenak mengendalikan syahwat, mengerem keinginan dari segala hal yang haram dan halal sekalipun. Karena itu puasa ramadan bisa dikatakan sebagai zakat (pembersih) terhadap diri seseorang yang kotor setelah sebelas bulan menelan hal-hal yang tidak jelas kebersihan dan atau kehalalannya.

Mungkin ini ironis, ramadan yang pada awalnya adalah sebuah momen keagamaan yang bersifat ukhrawi (keakhiratan) berubah menjadi momen keduniawian yang kering. Dahulu ramadan adalah saat dimana bisa beribadah puasa dengan penuh kekhusu’an kini riuh dan bising dengan sura petasan. Ibadah ini sangat rahasia dan menuntut kejujuran yang tinggi bagi pelakunya. Ramadan penuh dengan nilai-nilai sosial. Kaya dan miskin saling menghargai. Antar tetangga saling berbagi. Saat ini ramadan penuh dengan riuh-semrawut berbelanja dan kesumpekan mencari jajanan. Konsumerisme yang terjadi di bulan ini dianggap sebagai bagian dari berkah ramadan. Dengan demikian ada yang menganggap sifat konsumtif dan foya-foya selama (malam) ramadan seolah boleh ditolerir. Puasa ramadan seolah dipersempit maknanya sebagai tindakan tidak makan, minum atau bersetubuh disiang hari. Padahal ramadan maknanya lebih luas lagi. Yakni menahan segala nafsu, menghilangkan kesia-siaan, pemborosan, senda-gurau dan sifat-sikap yang tidak bermanfaat.

Ritual keagamaan yang menyangkut orang banyak memang mudah diplesetkan untuk mengeruk keuntungan berlipat. Mudah melenceng dari tujuan dasarnya. Bagaimana mungkin ibadah puasa yang sisi sosialnya dimaksudkan untuk turut berempati atas apa yang dirasakan kaum papa, tiba-tiba berubah menjadi ibadah individual yang egois. Puasa hanya dianggap sebagai menahan makan dan minum, bukan menahan sikap boros, pamer dan serakah.

Selasa, 14 April 2015

Pulang Kampung


Aku rindu pulang kampung. Aku harus pulang ke rumah. Kerinduanku pada keluarga telah sampai ke batas ubun-ubun. Sampai batas lelahku. Aku perlu recharge semangat dan motivasi tanpa kata dengan mengunjungi bagian dari “tubuhku,” dari diriku, yakni kampung halaman.

Terkadang manusia seperti penyu betina dalam hal tertentu. Di daratan manapun tempatnya seekor penyu di lahirkan, suatu saat ketika akan bertelur seekor penyu akan kembali ke tempat ia dilahirkan. Artinya tempat kelahiran menjadi bagian yang sangat penting bagi kelangsungan hidup si penyu. Mungkin semua penyu—khususnya yang betina—ketika meninggalkan daratan menuju lautan, telah menyimpan kerinduan yang dalam agar suatu saat bisa ke tempat asalnya. Maka dengan instingnya yang tajam seekor penyu dewasa ketika ingin bertelur dapat menemukan kampung halamannya, seberapun jauhnya ia mengembara. Seekor penyu dapat mengarungi lautan yang luas. Melintasi pulau demi pulau bahkan benua demi benua. Hal ini adalah sesuatu yang sangat ajaib.