Rabu, 21 Agustus 2019

Menimba Air Kebijaksanaan Gus Mus


MUSTOFA Bisri (biasa disebut Gus Mus) adalah bagian dari orang yang sedikit. Ia ulama, cendikiawan, budayawan, pernah jadi politisi, mengasuh pesantren, mubaligh, Kiai dan sederet gelar lainnya. Ulama banyak, tapi yang ulama sekaligus budayawan sedikit sekali. Penyair banyak, tetapi penyair yang sekaligus ulama langka. Sebagai budayawan ia mahir bersyair, membuat puisi, cerpen dan melukis. Budayawan di negeri ini melimpah, tetapi yang menguasai—minimal bisa membaca—referensi syair-syair atau sastra  berbahasa Arab, sekli lagi, sedikit sekali.

Gus Mus adalah pribadi yang langka. Sebagai Kiai pesantren tentu saja ia tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama dan sosial, tetapi bisa menyampaikan ilmunya disemua kalangan. Tidak hanya di kalangan santri, dikalangan non-santri pun ia terbiasa berbicara dengan luwes. Tidak hanya dikalangan “wong alit”, dikalangan “wong elit” pun bisa. Satu lagi mengapa ia adalah sosok yang langka adalah ia ulama yang bisa menulis. Karya-karyanya menyeba dipelbagai media daerah dan nasional. Sehingga orang yang bukan santrinya—seperti saya—bisa mendapatkan tetes ilmu walaupun tidak bertatap muka. Ditambah lagi sekarang ia aktif di media sosial Facebook dan Twitter, juga ada kanal Yuutube “Gus Mus Channel” yang berisi ceramah, diskusi dan pengajian kitab kuning online. Itulah Gus Mus.

Selasa, 23 Oktober 2018

Resolusi Jihad NU dan Sejarah Hari Santri Nasional

#HariSantriNasional
22 Oktober 2018 hari ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional (HSN). HSN pertama kali ditetapkan oleh Presiden Jokowi dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015. Dan pada 22 Oktober 2016 mulai “dirayakan” secara nasional. Sebagaimana perayaan hari-hari nasional, perayaan ditandai dengan upacara. Pada tahun 2017, saya termasuk yang mengikut upacara peringatan hari santri itu. Di Stadion Sukung, Kotabumi. Kesan pertama saya penyelenggaraannya  kurang terkoordinasi dengan baik, upacara berlangsung kurang tertib. Hal yang paling mencolok adalah tidak seragamnya peserta. Ada yang pakai sarung bagi laki-laki, ada yang pakai celana panyang.  Banyak yang memakai pakaian putih hitam, ada juga yang berpakai hijau, khas ormas tertentu. Banyak rombongan santri yang datang terlambat. Banyak yang masih santai keliling lapangan. Ada yang duduk-duduk santai, dan terlihat juga peserta yang membeli jajanan sementara upacara sudah dimulai. Maklumlah baru pertama. Maklum juga, mungkin bagi para santri upacara pada waktu itu dianggap seperti tabligh akbar, jadi tidak perlu terlalu formal.
Penetapan HSN merupakan pengakuan negara atas jasa  ulama dan santri dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Mengapa tanggal 22 Oktober? Karena tanggal 22 Oktober sendiri merujuk pada peristiwa sejarah berupa Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya yang diserukan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama (NU). Isi Resolusi Jihad tersebut bagi sebagian besar orang cukup asing. Tidak pernah mendengar ataupun mungkin membaca karena itu tidak tidak tahu apa isinya, tidak terkecuali bagi warga nahdliyin (sebutan untuk orang NU) sendiri. Sekadar untuk mengingatkan atau istilah kerennya menolak lupa, berikut ini saya tempel ulang isi Resolusi Jihad yang digagas kakek Gus Dur tersebut.

Jumat, 15 April 2016

Pahala yang Provokatif?

siberklik.com
Belakangan ini saya melihat tautan berisi pahala mengajak istri jalan-jalan pahalanya lebih besar daripada i'tikaf di Masjid Nabawi. Subhanallah, ini kabar yang menggembirakan sekali. Maka ketika senggang, saya ajak istri saya jalan-jalan, keluar malam mencari minuman hangat dan beberapa kudapan. Dengan niat menyenangkan istri, semoga jalan-jalanku malam itu tercatat sebagai pahala sebagai mana i'tikaf di Masjid Nabi. Toh, dalam tautan yang saya baca tidak ada syarat jalan-jalannya harus jauh, apalagi ke luar negeri.

Hari ini ada lagi tautan berisi pahala menyeduh kopi--dan tentu saja menghidangkannya--kepada suami pahalanya mengalahkan amalan sunnah setahun. Yang ini kabar baik buat istri. Kalau ditambahkan dengan pekerjaan yang lain, seperti merebus mie instan, menanak nasi, menggoreng telor ceplok dan sebagainya, pasti pahalanya bisa seperti amalan sunnah sepuluh tahun.