Apakah sesungguhnya makna sebuah pertemuan? Pertemuan ibarat menyusun kepingan-kepingan puzzle dalam kehidupan. Setiap pribadi kita adalah kepingan-kepingan puzzle itu. Saat kepingan-kepingan disatukan, disanalah keindahan mulai nampak. Seperti ada cerita yang mulai bermakna. Sayangnya, puzzle itu tak pernah selesai disatukan. Ia terlalu luas dan panjang. Seluas kehidupan itu sendiri.
Puzzle menjadi indah karena banyak warna dan pola. Tapi mengapa kita hanya menyukai dan menginginkan warna yang sama. Pertemuan adalah sebuah warna, dan perpisahan adalah warna yang lainnya.
Sebuah pertemuan pada dasarnya dilahirkan kembar siam dengan perpisahan. Mungkin sebagian dari kita lebih senang dengan perpisahan, karena tak nyaman dengan hadirnya sebuah pertemuan.
Kamis, 19 Januari 2012
Minggu, 08 Januari 2012
Di Kaki Gunung Pesagi
KISAH ini terjadi beberapa waktu yang lalu. Karena itu sengaja kuceritakan, karena jika tidak, cerita ini akan hilang. Aku berharap temanku akan menceritakannya kepada yang lain.
“Aku adalah pengembara,” begitu kuawali ceritaku pada seekor kucing hitamku. Kucing itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya ke kakiku. Tak perlu persetujuan darinya aku melanjutkan ceritaku. “Telah banyak tempat di negeri ini yang aku datangi. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari pulau satu ke pulau lain di negeri ini. Kampung dan desa kumasuki. Kota demi kota tak luput dari pengembaraanku. Aku beruntung hidup di era transportasi dan teknologi. Dengan demikian pengembaraanku bukanlah pengembaraan seperti pada kisah Brama Kumbara yang berjalan kaki atau naik kuda. Terkadang aku naik roda dua, bus, kereta api ataupun kapal laut. Satu yang tak pernah kucoba adalah pesawat udara, sebab kudengar pesawat terbang di negeri ini tak begitu layak terbang.” Kucing di sebelahku masih diam saja.
“Aku adalah pengembara,” begitu kuawali ceritaku pada seekor kucing hitamku. Kucing itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya ke kakiku. Tak perlu persetujuan darinya aku melanjutkan ceritaku. “Telah banyak tempat di negeri ini yang aku datangi. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari pulau satu ke pulau lain di negeri ini. Kampung dan desa kumasuki. Kota demi kota tak luput dari pengembaraanku. Aku beruntung hidup di era transportasi dan teknologi. Dengan demikian pengembaraanku bukanlah pengembaraan seperti pada kisah Brama Kumbara yang berjalan kaki atau naik kuda. Terkadang aku naik roda dua, bus, kereta api ataupun kapal laut. Satu yang tak pernah kucoba adalah pesawat udara, sebab kudengar pesawat terbang di negeri ini tak begitu layak terbang.” Kucing di sebelahku masih diam saja.
Senin, 26 Desember 2011
Mati
-Jobs
Kematian hanya memutuskan nafas
Perpisahan sesaat di tepi waktu
Akankah kita rayakan atau kita sesali
Kematianmu meninggalkan permata juga duka
Kematian tidak pernah mati
—
Tapi disana ditanah hitam
Tiba-tiba kematian menjadi merah
Peluru itu pecah di kepala
Kematiannya sepi tanpa lolong anjing
Hanya gemuruh tank meredam jerit sekarat
Hanya debu yang meratapi
22 Oktober 2011
Kematian hanya memutuskan nafas
Perpisahan sesaat di tepi waktu
Akankah kita rayakan atau kita sesali
Kematianmu meninggalkan permata juga duka
Kematian tidak pernah mati
—
Tapi disana ditanah hitam
Tiba-tiba kematian menjadi merah
Peluru itu pecah di kepala
Kematiannya sepi tanpa lolong anjing
Hanya gemuruh tank meredam jerit sekarat
Hanya debu yang meratapi
22 Oktober 2011
Langganan:
Postingan (Atom)