Satu hal yang mengusik pikiran saya ketika menjelang ramadhan adalah, mengapa semua orang diminta untuk menghormati bulan ramadhan, khususnya menghormati orang yang berpuasa? Orang yang biasa berjualan makanan diminta untuk menutup(i) warung jualannya. Hiburan malam pun harus menutup hiburan malamnya. Mengapa untuk berpuasa ramadhan semua “godaan” itu harus ditertibkan oleh pemerintah, bukan oleh hati kita? Tidak cukup kuatkah kita berpuasa kalau dikanan-kiri kita ada orang yang menjual makanan atau ada orang yang makan? Jika jawabannya ya, maka puasa kita tak ubahnya seperti puasa anak-anak yang baru belajar berpuasa.
Ramadhan adalah bulan suci. Ramadhan akan tetap suci bahkan jika kebanyakan orang tidak menghormatinya atau tidak berpuasa. Kesucian ramadhan bukan kesucian fisik, melainkan kesucian bathin. Puasa ramadhan atau puasa yang lainnya (puasa sunah) adalah ibadah personal, yang sah-tidaknya hanya Allah yang tahu. Khusus untuk puasa ramadhan bahkan Allah yang akan membalas pahalanya secara lansung, tanpa perantara malaikat.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Selasa, 13 Juli 2010
Mengenali Bubuk Wangi Bernama Kopi
ANDA pecinta kopi, penikmat kopi atau ingin menjadi penikmat kopi? Perlu anda ketahui, kopi hanya bisa dikenali dengan cara merasakannya secara langsung alias tasting. Berikut ini adalah cara sederhana yang biasa dipakai untuk menilai kopi yang berkualitas (nikmat) atau tidak.
Pertama, keasaman. Keasaman (acidity) adalah karakter yang membuat kopi disukai pecinta kopi. Keasaman disini bukan dalam arti negatif yang berarti tidak enak, tapi (rasa) sensasi di pinggir dan di bawah langit-langit mulut. Keasaman kopi adalah rasa yang tajam, kuat dan mampu menggetarkan syaraf. Tanpa keasaman kopi akan terasa hambar.
Kedua, aroma. Aroma adalah sensasi yang sulit dipisahkan dari rasa. Aroma dinikmati dengan penciuman. Tanpa indra penciuman, rasa hanya akan berupa rasa manis, asam, asin atau pahit. Aroma inilah yang mampu menambah kenikmatan kopi yang kita minum.
Surat Kabar Hibrida ala Olivia Serdeczny
![]() |
| Sumber Kompas.com |
Philip Meyer dalam Vanishing Newspaper
Dalam jagad kewartawanan, Olivia Serdeczny bukanlah apa apa dibandingkan Nick Davies, Joze Ruben Zamora, Chris Elliot atau Bambang Harymurti sekalipun. Olivia hanyalah seorang gadis belia usia 25 tahun (2010). Ia adalah gadis Polandia yang mempunyai proyek eksperimental. Ia membuat “surat kabar hibrida” bernama NIIU di Berlin, Jerman.
Bedanya dengan surat kabar kebanyakan (konvensional) adalah NIIU bersifat individual. Kalau surat kabar pada umumnya seragam untuk satu koran, tetapi NIIU tidak demikian. Olivia memberikan kebebasan kepada pembaca untuk memilih sendiri informasi yang mereka inginkan.
Dengan demikian tentu saja isi koran NIIU akan berbeda satu sama lain tergantung dari pesanan pembacanya. Satu koran NIIU terbitan hari ini yang saya beli dan baca barangkali hanya berisi informasi atau berita politik, musik, ekonomi dan sedikit berita olahraga. Sementara NIIU yang anda baca bisa jadi berisi tentang teknologi informasi, olahraga tanpa berita politik. Hal ini terjadi karena kita berbeda selera serta memesan berita yang berbeda.
Langganan:
Postingan (Atom)
